Ilustrasi (Ist)
Sampit, Kontenkalteng.com - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus bertambah dan kini mencapai 84 kasus hingga 18 Mei 2026.
Baca juga: DPRD Himbau Masyarakat Agar Jaga Kebersihan Lingkungan
Angka ini menjadi sinyal peringatan dini bagi semua pihak untuk segera bergerak mencegah lonjakan yang lebih besar.
Data tersebut dirilis Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim yang menekankan pentingnya langkah cepat dan terpadu untuk menekan penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kotim, Umar Kaderi, melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Nugroho Kuncoro Yudho, menegaskan bahwa situasi ini membutuhkan respons bersama lintas sektor.
”Ini membutuhkan kerja sama yang kuat antara pemerintah daerah, fasilitas pelayanan kesehatan, pelaku swasta, dan masyarakat guna meningkatkan kewaspadaan dan pencegahan penyakit DBD,” ujar Nugroho Kuncoro Yudho, Selasa (19/5/2026).
Dia merinci, dari total 84 kasus tersebut terdiri dari 53 kasus DBD, 1 kasus Dengue Shock Syndrome (DSS), serta 30 kasus Demam Dengue (DD) yang diduga tersangka DBD.
”Ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk segera mengambil tindakan terpadu dan efektif,” ucapnya.
Sebagai respons, Dinkes Kotim menginstruksikan pelaksanaan Gerakan Bersama Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 3M Plus secara rutin, minimal satu kali dalam seminggu, dengan melibatkan berbagai pihak hingga tingkat masyarakat.
”Upaya pencegahan dan pengendalian ini harus dilakukan secara cepat, terpadu, efektif, dan berbiaya rendah,” jelas Nugroho.
Gerakan PSN 3M Plus mencakup langkah-langkah utama yang harus dilakukan secara konsisten, yakni menguras dan menyikat tempat penampungan air untuk menghilangkan jentik nyamuk, menutup rapat tempat penampungan air agar tidak menjadi tempat berkembang biak, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.
Selain itu, terdapat langkah tambahan atau “Plus” yang juga dianjurkan, seperti menaburkan bubuk larvasida untuk membunuh jentik, memelihara ikan pemakan jentik seperti ikan guppy di penampungan air, serta menanam tanaman pengusir nyamuk seperti sereh, zodia, lavender, dan geranium.
Nugroho menegaskan, keberhasilan upaya ini sangat bergantung pada kesadaran dan keterlibatan aktif masyarakat.
”Peran serta warga sangat menentukan, karena upaya pemberantasan sarang nyamuk tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah saja, melainkan butuh sinergi semua pihak,” pungkasnya.
Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mengintensifkan langkah pencegahan, agar kasus DBD tidak terus meningkat dan kesehatan warga tetap terjaga.
Penulis: Deviana
Editor : Gunawan