Konflik Batas Desa di Kotim Bikin Program Cetak Sawah Pusat Gagal Jalan

Ketua Komisi I DPRD Kotim, Angga Aditya Nugraha.( Foto ist)

Kontenkalteng.com, Sampit – Ambisi memperkuat kedaulatan pangan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terbentur tembok birokrasi tingkat desa.

Baca juga: Waket DPRD Seruyan Minta Program Cetak Sawah Dapil II Direalisasikan

Rencana pembukaan lahan persawahan baru yang didanai pemerintah pusat dipastikan gagal jalan akibat konflik batas wilayah antara Desa Rawasari di Kecamatan Seranau dan Desa Ganepo di Kecamatan Pulau Hanaut yang tak kunjung usai.

Ketua Komisi I DPRD Kotim, Angga Aditya Nugraha, mengatakan, program strategis nasional tersebut hilang begitu saja dari genggaman masyarakat setempat.

”Ini menjadi atensi penting karena akibat permasalahan tata batas, program cetak sawah dari pemerintah pusat menjadi hilang,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).

Hilangnya program ini dinilai sebagai kerugian besar bagi daerah.

Padahal, pembukaan sawah baru tersebut diproyeksikan menjadi pilar penyokong ketahanan pangan di Kalimantan Tengah, selaras dengan rencana pengembangan kawasan food estate.

”Program ini seharusnya mendukung ketahanan pangan. Namun, karena persoalan tata batas, justru menjadi gagal. Ini sangat disayangkan,” katanya.

Guna mengakhiri kebuntuan, pihak terkait kini menyiapkan dua opsi penyelesaian.

Langkah pertama mengedepankan pendekatan persuasif, di mana kedua pemerintah desa diminta menanggalkan ego dan mencari titik temu melalui musyawarah mufakat.

”Poin pertama, kedua belah pihak diminta untuk mediasi, berdiskusi, bernegosiasi, dan bermusyawarah untuk mencapai kesepakatan tata batas,” jelas Angga.

Namun, jika jalur dialog tetap menemui jalan buntu, pemerintah daerah tidak akan membiarkan ketidakpastian ini berlarut.

Tim eksekutif dipastikan akan mengambil langkah tegas melalui intervensi administratif untuk mematok batas wilayah secara permanen.

”Poin kedua, apabila tidak ada kesepakatan, maka tim eksekutif akan membuat peraturan bupati baru atau menetapkan tata batas yang baru,” tegasnya.

Kendati peluang pengusulan program cetak sawah masih terbuka di masa mendatang, Rawasari dipastikan kehilangan momentum emas tahun ini.

Anggaran dan program tersebut kemungkinan besar akan dialihkan ke lokasi lain yang secara administratif lebih siap.

”Untuk pengusulan mungkin bisa, namun untuk lokasinya kemungkinan tidak di situ lagi. Di Pulau Hanaut ada beberapa desa yang masih berjalan, tapi Rawasari batal. Itu yang sangat disayangkan,” pungkasnya.

Penulis: Deviana 

Editor   : Gunawan